Minggu, 11 Februari 2024

ANALISIS DIKSI PUISI ‘DI TANGAN ANAK-ANAK’ KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO : KRITIK SASTRA

DIKSI PUISI ‘DI TANGAN ANAK-ANAK’ KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO

Karya sastra terlahir untuk dapat menjelaskan eksistensi manusia dan memberikan perhatian kepada realita manusia terhadap dunia. berdasarkan hal tersebut, terjadi perilaku yang membuat penikmat atau pembaca karya sastra melahirkan sebuah kritik terhadap karya sastra. Kritik yang dituangkan pada karya sastra akan membangun derajat sebuah karya sastra. Kajian stilistika merupakan salah satu kajian yang dapat digunakan untuk mengkritik sebuah karya sastra. Kajian stilistika membicarakan bagaimana memahami dan mengkaji sastra dari segi penggunaan bahasa yang dilakukan oleh penyair. Juga bagaimana sebuah kata dalam puisi dapat menimbulkan efek dan makna tertentu. Kajian tersebut masuk ke dalam kajian struktural karenanya, kajian ini dapat dilakukan dari segi unsur kebahasaan apapun. Dengan melihat diksi-diksi yang terdapat dalam sebuah puisi, maka dapat dilakukan kritis sastra pada puisi tersebut.


Adapun puisi  berjudul ‘Di tangan anak-anak’ karya Sapardi Djoko Damono dapat dilakukan analisis diksiSetelah dilakukan analisis terhadap diksi pada puisi ‘Di tangan anak-anak’ karya Sapardi Djoko Damono, terdapat diksi yang menonjolkan taringnya, yaitu kata konkrit dan konotasi. Maka dilakukan pembatasan untuk membahas kata konkrit dan konotasi pada puisi tersebut.


Berikut adalah puisi berjudul ‘Di tangan anak-anak’ karya Sapardi djoko damono.


DITANGAN ANAK – ANAK

Sapardi Djoko Damono

Di tangan anak- anak(1),

Kertas menjelma perahu Simbad yang tak 

takluk pada gelombang(2),

Menjelma burung yang jeritnya 

membukakan kelopak-kelopak bunga di 

hutan(3);

Di mulut anak-anak(4),

Kata menjelma menjadi Kitab Suci(5).

“Tuan, jangan kau ganggu permainanku 

ini.”(6)

 

                    - Di tangan anak-anak(1),

Pada kalimat pertama terdapat kata-kata “di tangan anak-anak”, kalimat tersebut dapat masuk ke dalam jenis diksi berupa kata konkrit, dikatakan kata konkrit karena kalimat tersebut menunjuk pada sesuatu yang dapat dilihat secara fisik atau melalui indera manusia secara langsung, yaitu pada kata tangan. Kata tangan menunjukan barang yang aktual dan juga spesifik. Tangan merupakan anggota tubuh yang biasa digunakan untuk memegang atau melakukan kegiatan lain, dan wujudnya bisa dilihat oleh indera manusia. 

-Kertas menjelma perahu Simbad yang tak takluk pada gelombang(2),

Pada kalimat selanjutnya, terdapat kata-kata “kertas menjelma perahu Sinbad yang tak takluk pada gelombang” dalam kata-kata kertas menjelma perahu Sinbad dapat diartikan sebagai diksi konotasi, karena kata – kata tersebut dapat dijelaskan menjadi tangan anak-anak yang begitu suci sehingga dapat melakukan sesuatu yang tidak terkalahkan, dikatakan seperti itu karena biasanya anak kecil diartikan sebagai makluk suci yang belum ternodai buruknya dunia, sehingga tangan mereka sebuah perubahan dapat terjadi didunia yang begitu luas, begitu pula dengan Kalimat tak takluk pada gelombang, gelombang diibaratkan sebagai cobaan atau masalah. anak kecil pada masanya hanya menjalani kehidupan mereka tanpa takut memikirkan akibat yang akan didapatkannya. mereka dapat dengan santai melompat ke dalam lumpur tanpa takut kotor karena itu anak kecil diibaratkan tidak takut pada sebuah gelombang yang dimaksudkan dengan masalah yang bisa menimpa mereka ketika mereka beranjak dewasa. 

Pada bait pertama dan kedua membicarakan tentang kata kiasan yang memiliki makna bahwa sebenarnya masa depan bumi ada ditangan anak-anak. Pada masa sekarang, anak-anak dianggap sebagai “native digital generation” yaitu generasi yang lahir ditengah perkembangan teknologi. Kadang anak-anak dipaksa untuk mahir dalam berteknologi agar dapat menyaingin perkembangan zaman. Namun, pada zaman sekarang, hal seperti itu justru dapat menjerumuskan seorang anak kepada teknologi yang tidak disaring dengan baik. Masa depan anak bisa saja terganggu dan malah mengalami kemunduran akibat hal tersebut. Pada dasarnya, kodrat seorang anak adalah untuk mengikuti kehidupannya yang masih berada dalam dunia fantasinya sendiri.

Pada kenyataannya, ada kasus dimana anak yang seharusnya merasakan permainan bersama teman sepantarannya. Kini malah sibuk didalam rumah dengan benda tipis ditangannya. Hal tersebut bisa saja mengganggu perkembangan emosi dari seorang anak. Pada masa anak-anak, biasanya mereka harus mulai merasakan berbagai emosi seperti takut, senang, sedih, kecewa, marah dan lain – lain. Namun karena terhalang dengan majunya teknologi dan juga orang tua yang tidak bisa mengimbangi pembagian proses tumbuh kembangnya. Anak – anak jadi terlambat mempelajari perasaan-perasaan tersebut. Karena itu anak sebenarnya bisa membuat “kertas menjelma perahu simbad yang tak takluk pada gelombang” tentu dengan adanya dorongan atau dukungan dari orang tua, yang tidak membebani mereka untuk umbuh sesuai dengan kemampuannya.

Pada bait ketiga, yaitu:

-                Menjelma burung yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga di hutan(3);

Kalimat “menjelma burung yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga dihutan” dapat diartikan sebagai makluk yang bebas, anak-anak menjadi manusia yang masih bisa terbang tanpa mengkhawatirkan predator, mereka terbang menelusuri bumi dengan sayapnya. Lalu pada kata-kata selanjutnya yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga dihutan, dapat diartikan menjadi sebuah perkataan atau pendapat seorang anak-anak dapat begitu mempengaruhi dunia, kata-kata dari anak kecil yang masih dapat dipercaya dan belum terkontaminasi dengan kebohongan-kebohongan yang mungkin akan mereka katakana saat beranjak dewasa. Kalimat tersebut juga menujukan arti bahwa seorang anak-anak dapat melakukan hal yang tidak mungkin dengan tekadnya, ditunjukkan oleh perkataan yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga dihutan, yang pada dasarnya, dikehidupan nyata, jeritan burung tidak bisa membuka sebuah kelopak bunga. Kelopak bunga akan terbuka jika mahkota bunga telah mekar dengan sempurna, namun pada puisi ini, kelopak bunga dapat mekar dengan jeritan burung yang diartikan sebagai sebuah suara atau pendapat dari anak-anak. Kalimat tersebut masuk ke dalam jenis diksi konotasi.

Karena pada penjelasan diatas kalimat tersebut dapat sebuah suara atau pendapat dari anak-anak. Pada dasarnya di Indonesia sendiri, kebebasan berpedapat bagi anak-anak sudah diatur oleh KOMNAS HAM. Dalam instrumental HAM internasional. Pada nomor 29 yang mengatur tentang hak-hak anak menjamin bahwa hak atas kebebasan untuk menyatakan pendapat yang mencakup kebebasan untuk mengusahakan, menerima dan memberi segala macam informasi dan gagasan, terlepas dari perbatasan wilayah baik secara lisan, tertulis atau dalam cetakan, dalam bentuk karya seni, atau melalui media lain yang dipilih anak yang bersangkutan. Penggunaan hak tersebut bergantung pada pembatasan-pembatasan tertentu sebagaimana dinyatakan undang-undang dan jika memang diperlukan dalam rangka menghormati hak-hak atau reputasi orang lain dan untuk melindungi keamanan nasional atau ketertiban umum, kesehatan umum dan moral.

Atas dasar tersebut, maka kebebasan-kebebasan anak untuk mengemukakan pendapat seharusnya sudah tertera dan dilingungi. Namun pada masa kini, banyak orang dewasa yang berpikir diri mereka hebat karena mereka lahir lebih dahulu dibandingkan anak-anak yang lahir dibawah mereka. merasa pendapat anak-anak tersebut kurang penting sehingga masih belum bisa menghargai pendapat tersebut. Bukan hanya itu, banyak kasus guru yang membuat pemikiran anak-anak menjadi seragam dan sesuai dengan kemauannya. Membuat siswa siswa yang merasa tidak punya kesempatan untuk menyampaikan pendapat menjadi takut untuk menuangkan pemikirannya. Hal tersebut juga mendapat perhatian dan dinilai salah dalam praktik di dunia pendidikan menurut Plt. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (Kabalitbangbuk) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Totok Suprayitno.

Pada bait keempat dan kelima:

-          Di mulut anak-anak(4),

-          Kata menjelma menjadi Kitab Suci(5).

Kata “Di mulut anak-anak, kata menjelma menjadi kita suci”, termasuk ke dalam diksi konotasi karena mulut anak-anak dapat diartikan sebagai perkataan seorang anak kecil, sedangkan menjelma menjadi kitab suci dapat diartikan sebagai perkataan yang begitu polos. Dikatakan begitu karena perkataan seorang anak-anak masih begitu jujur dan murni. Apa yang mereka rasakan, itu yang mereka ucapkan, tidak ada kebohongan yang terucap dalam perkataan seorang anak kecil. Kemudian kata menjelma menjadi kitab suci juga hampir berarti sama, seperti sambungan dari arti kata-kata di mulut anak-anak, kitab suci memiliki arti sebuah buku yang berisi ayat-ayat yang dapat menyucikan seorang manusia dari hal-hal kotor, atau dapat juga sebagai hal yang negatif. Puisi ini mengibaratkan perkataan anak kecil sebagai hal suci yang belum tersentuh oleh kotornya dunia, di dalam perkataannya, hanya terdapat hal positif yang dilihatnya kemudian terucap di mulutnya.

Pada bait ini, dapat dilihat contoh nyata dalam kehidupan anak-anak, yaitu kepolosan, ketulusan, ketidakberdosaan yang erat sekali hubungannya dengan kata anak-anak. Menurut psikolog Ratih Ibrahim bermain merupakan salah satu bentuk stimulasi yang penting buat anak. Dengan bermain, anak akan mengeksplorasi lingkungan dan mereka belajar dari situ. Maka dari itu, larangan yang dilakukan orang dewasa terhadap kebebasan anak, dapat menyebabkan stimulasi yang harus didapatkan anak menjadi berkurang, sehingga anak akan tumbuh kurang baik. Pada dasarnya, psikolog menyarankan untuk tidak melarang seorang anak untuk bermain,cukup membatasinya dengan perkataan perkataan yang tepat. Misal saat hujan, dan anak ingin bermain. Jangan dilarang dengan “tidak boleh bermain hujan”. Tapi diganti menjadi “boleh, tapi perut jangan kosong, dan mainnya jangan lama-lama” atau kita bisa menentukan waktu sesuai dengan kebutuhan rangsangan bagi seorang anak. Dengan begitu selayaknya, anak-anak tetap bisa mengeksplorasi diri mereka dan menjaga kepolosan, ketulusan, dan ketidakberdosaan. Karena, kata larangan pada anak, bisa menstimulasi seorang anak untuk melawan perkataan orang tuanya, dan akan berdampak untuk kedepannya.

Pada kalimat ke enam:

-          “Tuan, jangan kau ganggu permainanku ini.”(6)

Kalimat terakhir yaitu “tuan, jangan kau ganggu permainanku” dapat masuk ke dalam diksi konotatif. Dapat diartikan bahwa anak-anak sering mendapat gangguan dari orang dewasa terhadap hak kebahagiaanya, hak tersebut dapat diartikan dari kata permainanku. Pada dasarnya, anak-anak bermain untuk memenuhi kebutuhan mereka sebagai anak kecil. Kebutuhan tersebut bisa menghasilkan kebahagiaan dalam diri anak-anak, namun di dalam kata-kata tersebut, anak kecil meminta seorang tuan untuk tidak menggangunya  di dalam permainannya. Berarti, anak-anak ingin bebas tumbuh, tampa campur tangan dari orang dewasa. Banyak  kasus anak-anak tumbuh tidak sesuai dengan keinginan mereka, dewasa karena terpaksa, atau dewasa karena keadaan. Anak-anak dipaksa untuk memahami kesulitan orang tua bahkan sampai membantu orang tua untuk lepas dari kesulitan tersebut. Yang seharusnya pada masa tersebut, anak-anak masih menikmati indahnya dunia, belum terkontaminasi dengan pahitnya dunia. Oleh karena itu pada puisi tersebut, diakhiri dengan kalimat “tuan, jangan kau ganggu permainanku” yang berarti, anak-anak masih pantas merasakan masa perkembangan mereka, tanpa harus memikirkan beban orang dewasa.

Dalam bait terkahir itu, dijelaskan bahwa seorang anak masih tidak memiliki kebebasan untuk bermain, semua permainannya memiliki batasan, apalagi pemainan mereka masih berada dibawah pengawasan orang tua. Seperti ketika asyik bermain, tiba-tiba ayah atau ibu memanggil untuk pulang? atau mengingatkan untuk segera mandi? Mengerjakan PR? Itulah ancaman. Dalam bait penutup, penyair tidak bermaksud untuk menghindari ancaman yang ada didalam kehidupan nyata, hanya berusaha menyadari gangguan yang ada. Karena itu dapat ditegaskan bahwa bait terkahir mendorong kita untuk dapat bermain sesuka kita, kalau dilihat dari segi sastra, bait tersebut menunjukan kebebasan bagi sastrawan untuk terus menulis karya-karyanya dengan bebas tanpa ada gangguan dari luar dan dalam. Menulis dengan bebas tanpa memikirkan sebuah konsekuensi terlebih dahulu.

Puisi berjudul ‘Di tangan anak-anak’ karya Sapardi djoko damono memiliki kelebihan salah satunya pada bagian diksi, dimana puisi tersebut memiliki begitu banyak makna yang tersembunyi dibalik kata-kata kiasan yang ada didalamnnya. Penulis menyampaikan sebuah nasihat sosial lewat kata kata sehalus mungkin namun memiliki arti yang begitu dalam. Pada puisi tersebut, permasalahan yang ada di dalamnnya termasuk menjadi kelebihan. Di dalam puisi tersebut, masalah sosial tentang kehidupan anak-anak yang sering kali mendapakan ketidakadilan akibat nasib orang tua, atau lingkungan tempat mereka dilahirkan menjadi salah satu kunci masa depan mereka. Tidak jarang anak anak dengan bakat yang luar biasa, namun terlahir ditempat yang kurang memadai, menjadikan mereka tidak memiliki masa depan. Dapat digambarkan dari kata kata di dalam puisi yang begitu memperlihatkan kehebatan, kebebasan dan kesucian anak-anak, namun terhalang oleh masalah yang diibaratkan oleh ‘tuan’ pada puisi tersebut.

Kebermanfaatan yang dapat dilihat dari puisi ini yaitu dapat digunakan sebagai salah satu media pembelajaran. Karena begitu banyak diksi yang digunakan, puisi ini bisa menjadi bahan acuan untuk  mempelajari jenis-jenis diksi yang ada lewat menganalisisnya, selain itu, puisi ini juga mengajarkan bagaimana hebatnya seorang anak-anak yang biasanya dianggap remeh oleh orang dewasa. Nyatanya, yang akan membawa kemajuan di masa depan, yang akan melanjutkan kerja keras dimasa depan adalah calon-calon penerus bangsa dan anak-anak menjadi salah satu calon penerus bangsa yang harusnya dipercaya serta diberikan waktu untuk mengenal dunia maupun dirinya sendiri lewat permainan mereka, permainan yang sebenarnya dilakukan untuk menelusuri keadaan disekitar mereka, untuk mereka mengenal dunia, dan jangan dihentikan permainan tersebut supaya mereka bisa mendalami permainannya serta mengubah masa depan menjadi lebih baik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ANALISIS DIKSI PUISI ‘DI TANGAN ANAK-ANAK’ KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO : KRITIK SASTRA

DIKSI PUISI ‘DI TANGAN ANAK-ANAK’  KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO Karya sastra terlahir untuk dapat menjelaskan eksistensi manusia dan memberika...